Mengampuni 70*7 kali

Sr Henni Sidabungke RSCJ

Suatu kegembiraan besar bagi saya bisa berbagi tentang tema ini,  tentang “Hati Yesus yang Mengampuni.”. Saya sadar bahwa setiap kali, ada orang bertanya kepada saya, apa rahmat terbesar yang kamu dapatkan selama kamu di biara, otomatis saya akan menjawab, “pengampunan”,. Rahmat yang membentuk saya bisa seperti saya sekarang ini.   Dan Rahmat yang menyakinkan saya bahwa Hati Kudus Yesus adalah tempat yang pas buat saya.

Sebenarnya apakah pengampunan itu? Pengampunan seperti apa yang selalu diajarkan Yesus kepada kita? Saya tidak bisa merangkai kata yang bagus untuk mendeskripsikan pengampunan ini. Saya hanya bisa menceritakan pengalaman saya diampuni dan mengampuni.

Pertama, Mengampuni itu artinya mencintai. Fix, no debat. Kita bisa belajar ini dari Yesus yang tersalib. Yesus mengajar kita untuk mampu mengampuni kesalahan orang lain. Tapi dia bukan hanya mengajarkan, Ia telah melakukannya terlebih dahulu sampai di salib. Maka  di hari Raya Jumat Agung,Tidak perlu menangis, kasihan Yesus sakit… yang perlu adalah anda yakin bahwa “Yes, terimakasih Tuhan saya Engkau cintai sampai rela Mati.” Nah, kalau sudah begini, masa kita tidak bisa mengampuni orang lain. Orang yang pernah merasa dikasihi atau dicintai pasti akan mudah mengampuni. Maka ketika anda merasa sulit untuk mengampuni, coba tanyakan pada diri anda, apakah anda betul- betul merasa dikasihi, apakah anda mengasihi diri anda sendiri, apakah anda yakin bahwa anda dikasihi Tuhan. Ketika saya Novis, saya pernah merasa sangat miskin sekali, miskin…… semiskin miskinnya. Rasa ditinggalkan, dijauhi, rasa hina, tidak ada hidup. Sebenarnya tidak benar ya, ini hanya perasaan saya. Waktu itu, saya melakukan  suatu kesalahan di biara, dan saya benar benar merasa bersalah. Teman teman saya menjauh, tapi saya bangkit karena tatapan kasih suster pembimbing saya. Sedikitpun kasihnya terhadap saya tidak berkurang, dia tetap menyapa saya, seolah2 kesalahan saya itu tidak ada apa2nya. Dia tertawa, dan sya masih ingat, pernah suatu hari ada outing komunitas, jalan2 dan makan di luar. Waktu itu saya tidak bisa ikut. Nah yang dia lakukan, dia bungkus makanan saya dan bawa pulang.  KASIH.  Sadar dan tinggal bahwa anda dikasihi, Anda pasti ingin melakukan hal yang sama ke orang lain. Pasti anda akan lebih mau mengasihi dan mengampuni. Amin

Kedua. Pengampunan itu rahmat, anugerah. Yesus, ketika di taman Getsemani, dia tidak bergantung kepada penyertaan murid-muridNya, tapi Dia mohon kekuatan dalam doaNya. Maka akhirnya di kayu salib, dia bisa berkata, “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tau yg mereka perbuat.” Rahmat. Kita harus memohon kan ini, dan mengemis di depan Tuhan untuk rahmat ini. Ketika saya retret agung di masa Novisiat, saya mulai sadar bahwa luka batin saya besar, sakit hati saya ke ayah saya menggunung. Retret artinya hening ya, jadi banyak pengalaman sakit yang muncul. Mulai dari saya lahir, saya mau dibuang ayah saya, sampai saya besar pun banyak pengalaman pahit dg ayah. Jadi saya sakit hati.  1 bulan suster pembimbing saya dengan sabarnya mendorong saya agar saya mampu mengampuni. Sampai saya pernah terancam dipulangkan. Saya masih ingat, suster berkata ke saya, kalau kamu tidak bisa mengampuni, kamu pulang saja, tidak cocok sebagai suster Hati Kudus Yesus. Tertampar saya rasanya, tapi justru ini menguatkan saya untuk bisa mengampuni. Setiap tutup mata di doa, bawaannya nangis. Hari ini saya doa, besok saya bimbingan saya bilang, saya senang karena saya sudah memahami bapak saya, dan saya sudah mengampuni beliau. 3 minggu seperti itu terus, ternyata ketika mendekati minggu terakhir, merenung tentang penderitaan Yesus amarah saya terhadap ayah saya keluar lagi. Selama ini, ternyata pengampunan saya hanya sebatas kepala, bukan hati. Sampai saya tak punya kekuatan lagi, saya tak tau harus bagaimana lagi, saya capek, bosan didorong2 terus sama suster.. saya sudah berusaha tapi tak berhasil juga. Sampai suatu hari, saya bermeditasi, dan dalam meditasi itu, saya merasa seperti berada di sebuah gua yang sangat indah, segala sesuatu yang saya butuhkan tersedia di dalam gua. Aman dan Nyaman. Namun tiba tiba saya mendengar Tuhan bicara, Henni Kalau kamu mau bahagia silahkan geser batu gua itu, saya lihat dan alamak besar kali.. berat.. saya bilang ke Tuhan, tidak saya tidak mau, berat.  Detik itu pun, saya kaget dengan respond saya, “Tidak mau”,  Saya mengampuni bukan karena sulit ya tapi karena saya tidak mau. Tapi Tuhan kepala batu juga, Tidak Henni, tidak, kalau kamu mau bahagia kamu geser batu itu… saya masih bisa bayangkan suara dan tatapan Yesus ketika bicara hal itu, sampai saya katakan Ok… Berat sekali, Tuhan disana hanya tim Hore saja, dia tidak bantu, saya rasa panasss sekali, sampai ketika batunya tergeser, saya merasa ada sesuatu terlepas dari hati saya. Ada beban yang berkurang. 

Ini juga yang membawa saya ke pemahaman berikutnya. Pengampunan itu adalah memerdekakan. Saya belajar bahwa Pengampunan tidak pertama-tama demi orang-orang yang melakukan kesalahan terhadap kita, tetapi terutama bagi diri kita sendiri. Kalau tidak, Kita sendirilah yang harus menderita kalau kita tidak mau mengampuni. Kalau terjadi pengampunan, bukan hanya merasa bebas tapi luka-luka kita disembuhkan.  maka tidak ada alasan untuk tidak memberikan pengampunan. Suster pembimbing saya selalu menekankan, “Yang berubah itu kamu, bukan ayahmu.”, jadi jangan menuntut orang berubah.

Cerita pengampunan ini panjang tapi saya mau menekankan satu hal terakhir. Syukur untuk semua rasa sakit, karena ini berarti anda bisa mengalami Hati Yesus yang tertusuk tombak. Pengalaman menyakitkan yang kita alami, apapun itu pasti berbicara tentang Kasih Tuhan. Ketika saya Novis dulu, saya dibimbing Pastor Jesuit dari India, dan dia selalu bilang, jangan pernah katakan ,”hihihi, ayahku tak mencintaiku, atau ibuku tak mencintaiku.” Dulu saya ketawa2 dengar ini, karena tak paham.. lama lama saya sadar, betapa besar pesan yang ada di kalimat itu. You are loved, namun segala sesuatu yg menyakitkan adalah tanda Tuhan ingin berbicara kasih kepadamu, dan Tuhan ingin menggunakan kita sebagai alat pewartanya dengan pengalaman kita. Betapa beruntungnya kita, maka sekarang, kalau saya mendengar luka batin dengan keluarga, dengan ayah, dengan saudara, saya punya materi untuk dibicarakan, karena Tuhan sudah terlebih dahulu memakai saya.

Pengalaman Sakit Yesus, sampai HatiNya tertusuk tombak menjadi sumber kesembuhan kita. Yang berbeban berat, yang sudah lelah dengan perjuangan pengampunan anda, pergi ke kaki salib, lihat hati Yesus yang tertusuk tombak dan bayangkan darah dan air yang keluar dari Hati Yesus membasuh semua amarah dan beban anda. Istrahat disana, biarkan Tuhan menyembuhkan.  

 Kita berdoa kepada Tuhan  agar Ia memenuhi hidup kita dengan kasih-Nya. Dengan demikian, kita mampu melihat segala sesuatu dengan kaca mata kasih. Kita doa gara kita mampu  mengampuni 70 * 7 kali, Mencintai orang yang menyakiti kita, dan berdoa buat mereka. Sekian sharing saya malam ini. Terimakasih.