Berdevosi kepada Hati Kudus Yesus

Devosi kepada Hati Kudus Yesus semakin popular di seluruh dunia pada abad ke-17 sesudah seorang biarawati dari Kongregasi Visitasi Perancis Margaret Mary Alacoque (1647-1690) menerima wahyu dari Allah. Ia mengatakan bahwa “Tuhan menginginkan umat Kristiani untuk menghormati dan memuliakan Hati-Nya yang penuh kasih dan menyambut ekaristi sebagai tindakan silih atas tindakan-tindakan jahat yang Ia derita, terutama dalam Sakramen Mahakudus”.

Lima puluh tahun setelah kematian Maragaret di tahun 1690, sekitar tujuh ratus kelompok Konfraternitas Hati Kudus dibentuk di Perancis. Pada masa Sophie Barat dan Philippine Duchesne, devosi kepada Hati Kudus Yesus mempunyai arti ganda. Arti-arti ini mulai dari konsentrasi pada hati fisik Kristus, sebuah devosi yang ditolak oleh banyak orang saat ini hingga penekanan pada sifat-sifat yang tidak dapat diraba yang disimbolkan dengan Hati-Nya, seperti cinta, kemurahan hati, belaskasih, dan pengampunan. “Berdevosi” kepada Hati-Nya berarti membuka diri untuk bertumbuh dalam cinta, kemurahan hati, belaskasih dan pengampunan.

Cara RSCJ dalam berdevosi kepada Hati Kudus Yesus terpancar dalam ‘Sophie’s Daily Prayer’:
Hati Kudus Yesus, Beri aku hati yang satu dengan milikmu;
Hati yang rendah hati yang tahu dan mencintai ketiadaannya;
Hati yang lembut yang menahan dan menenangkan kecemasannya sendiri;
Hati yang pengasih yang memiliki belas kasihan untuk penderitaan orang lain;
Hati yang murni yang mundur bahkan pada penampilan yang jahat;
Hati yang terpisah yang tidak menginginkan apa pun selain kebaikan surga;
Hati yang terlepas dari cinta-diri dan dianut oleh cinta Tuhan,
Perhatiannya terfokus pada Tuhan,
kebaikannya adalah satu-satunya harta
dalam waktu dan keabadian.

Mengontemplasikan Kedalaman Allah

Konstitusi RSCJ yang disusun oleh Joseph Varin dan Sophie Barat bagi Kongregasi Hati Kudus Yesus pada tahun 1815 memiliki tujuan utama, yaitu; “memuliakan” Hati Yesus. Tujuan tersebut dipenuhi dengan dua cara, yaitu; Pertama, para anggota harus menyelaraskan pikiran dan hatinya sendiri dengan pikiran dan Hati Yesus. Cara ini diperkuat dengan kehidupan doa dan kehidupan batin. Seperti yang disampaikan oleh Sophie, bahwa: “Semangat Kongregasi pada dasarnya dilandaskan pada doa dan kehidupan batiniah”. Sophie mengundang pengikutnya untuk memperhatikan kehidupan batin mereka, karena inkarnasi spiritualitas mereka mengalir dari kedalaman relasi mereka dengan Yesus. Melalui kedalaman relasi ini pun akan memberi daya hidup, sukacita dan keberhasilan dalam karya.

Kedua, mereka harus bekerja bagi kekudusan orang lain dengan menggunakan segala sarana sesuai kemampuan mereka untuk menyebarluaskan penghormatan Hati Kudus. Hal ini disampaikan oleh Pillar Cardo, RSCJ dalam konferensi kepala sekolah RSCJ internasional, bahwa:


Setiap kehidupan manusia, seperti mengalami kerusakan, kehancuran, dan kemungkinan ada sumur kehidupan yang tersembunyikan di balik kerusakan dan kehancuran tersebut. Dengan demikian, kita diundang untuk membantu mereka dalam menemukan kedalaman sumur kehidupan mereka, dan untuk membebaskan tanah mereka sehingga sumur-sumur itu dapat mengalir kembali.

Karena bagi Sophie Barat dan Joseph Varin, cinta kepada Hati Kudus Yesus berarti kita berani meneladani serta bertindak sebagaimana sikap cinta kasih dan belaskasih yang telah dilakukan oleh Yesus atas dunia, sehingga devosi ini lebih daripada suatu hubungan yang menyenangkan, bahkan menyentuh perasaan antara pribadi dengan Allah. Sebab, “memuliakan Hati Yesus” jauh lebih bernilai daripada sikap kerohanian perorangan. Hal ini mencakup pengabdian yang total untuk melayani sesama. Kontemplasi tidak berarti isolasi, tetapi berani memasuki hati kita, di dalam batin kita. Di sana kita menemukan sukacita dan penderitaan orang lain.

Merenungkan berarti melakukan, melihat, dan bertindak; melihat hal-hal dari dalam hati yang jernih. Sikap kontemplasi pribadi merupakan sebuah titik awal untuk membuat kita menjadi serupa dengan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan Kristus.


Sophie mengingatkan bahwa perubahan pribadi yang dihasilkan dalam kontemplasi tidak berhenti di situ. Transformasi itu mendesak seseorang untuk pergi keluar dan berkarya bagi kekudusan atau perubahan bagi sesama yang haus akan kasih, kebenaran dan perdamaian.

Mengontemplasikan Hati Yesus berarti mengontemplasikan keadaan dunia kita yang luas, khususnya keadaan dunia pendidikan. Berkaitan dengan ini, dokumen konferensi kepala sekolah RSCJ sedunia menyatakan:

Tempat untuk kontemplasi adalah hati dunia dan di sanalah kita menemukan Hati Allah, detak jantung Allah dalam kemanusiaan. Di sanalah kita menangkap kehidupan Allah di bumi dan kehidupan bumi di dalam Allah; di situlah luka dan kekayaannya ditunjukkan kepada kita: budaya dan gaya hidup yang berbeda, beragam manifestasi Allah sendiri, dalam berbagai cara dan bahasa, untuk semua garis keturunan manusia. Dari sana, kita dapat menangkap kehadiran dan tindakan Roh di mana-mana

Oleh karena itu, bagi zaman modern ini tugas untuk menyebarkan “devosi kepada Hati Kudus Yesus” berarti mencakup untuk memperkuat keutamaan-keutamaan kasih, kebaikan hati, rasa belaskasihan, dan pengampunan dalam diri seseorang dan dalam diri semua orang yang dijumpai.

Sr Yolanda Alina Diwu, rscj

Share your thoughts